Napro.id, Tangerang - Berdasarkan data yang dihimpun oleh Asosiasi REI (Real Estate Indonesia), perkembangan investasi properti di Indonesia meningkat hingga 30 persen. REI memprediksi bahwa bisnis di bidang properti ini akan terus mengalami peningkatan bahkan hingga tahun 2018. Perkembangan investasi properti ini didorong adanya faktor LTV (Loan to Value) yang ada kaitannya dengan besaran DP yang harus dibayarkan oleh pembeli properti di awal pembelian. Bahkan, angka cicilan kedua dan ketiga juga turut mempengaruhi jumlah permintaan konsumen.

Menariknya, di tahun 2018 mendatang. Ekonomi global juga diprediksi akan membaik setelah mengalami guncangan sepanjang periode 2015, seperti harga minyak dan komoditas yang anjlok, pertumbuhan ekonomi China yang menurun, juga kenaikan suku bunga The Fed yang tidak pasti. Sejatinya, pertumbuhan di sektor properti ini mulai terdorong dan mulai terlihat sejak paruh kedua 2016. Apalagi, kini ditambah kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan hingga BI 7-Days Reverse Repo Rate berada di level 4,50% atau turun 25 bps dibandingkan bulan sebelumnya.

Dengan adanya kebijakan ini, akan membuat masyarakat kelas menengah ke bawah mendapatkan kemudahan dalam membeli properti. Karena akan adanya beragam subsidi dari pemerintah. Selain itu, dampak dari tumbuhnya ekonomi secara pesat, apartemen kelas menengah ke bawah juga ikut bangkit. Jadi, bagi Anda yang ingin terjun dalam berinvestasi di sektor properti, sebaiknya jangan ditunda-tunda. Tahun 2018 adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi di sektor properti. Selagi suku bunga acuan dari Bank Indonesia menurun, inilah saatnya Anda meraup keuntungan dari berinvestasi di sektor properti.

Ada banyak pilihan yang dapat Anda pilih dalam berinvestasi properti. Anda bisa membeli apartemen untuk dapat Anda sewakan kembali. Jika ditelisik lebih dalam oleh para pebisnis properti. Di tahun 2018 yang akan lebih banyak berinvestasi di bidang properti adalah kaum milenal. Mengapa? anak muda jaman sekarang sudah mulai berpikir jauh untuk urusan keuangan mereka di masa yang akan datang. Meskipun, kaum senior juga akan mendominasi di deretan daftar investor di sektor properti ini.

Ada banyak faktor yang mendorong perkembangan di sektor properti bakal semakin melejit di tahun 2018. Beberap di antaranya adalah sebagai berikut:



Permintaan Properti Semakin Meningkat
Masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum memiliki hunian, hal itu lantaran mahalnya properti yang disediakan oleh para pengembang. Namun, dewasa ini, pebisnis properti mengatakan melemahnya pasar properti semenjak 2014 lalu, bukanlah dikarenakan ketidakmampuan masyarakat Indonesia dalam membeli properti ataupun berinvestasi properti. Tetapi, dikarenakan masyarakat Indonesia kini lebih teliti dalam memilih properti untuk dibeli dan dijadikan sebagai investasi guna mempertahankan kondisi keuangan di masa yang akan datang. 

Namun, semakin menjelang akhir tahun ini, dimana lahan di kota-kota besar semakin menyempit, mendorong masyarakat untuk mencari hunian di pinggiran kota besar, atau pun di kawasan penyangga ibukota. Ditambah, masyarakat Indonesia yang lebih jeli dalam menginvestasikan uang mereka, dan sebagian besar memilih properti untuk dibeli dan dijadikan lahan meraup keuntungan.

Masyarakat Lebih Cerdas dalam Mengelola Keuangan
Kini banyak masyarakat Indonesia yang memilih untuk berinvestasi sebagai upaya mempertahankan keuangan mereka di masa yang akan datang. Ada banyak jenis investasi yang dapat Anda geluti. Tetapi, banyak juga dari masyarakat Indonesia yang memilih investasi properti sebagai pilihan tepat dalam menggunakan dana mereka sebagai investasi. Selain memiliki resiko yang kecil, untuk melakukan prospek investasi properti di Indonesia ini juga tidak memerlukan pengetahuan yang canggih. Hanya dibutuhkan ilmu khusus untuk memahaminya seperti pada instrumen investasi yang lainnya.

Hal ini bisa dilihat dari sejarah perkembangan properti yang ada di Indonesia. Sejauh ini belum pernah terdapat developer atau pengembang yang menawarkan penurunan harga propertinya khususnya rumah. Bagi para investor tidak ada panduan khusus dalam berinvestasi di sektor properti. Karena yang terpenting adalah harus jeli dalam menentukan lokasi tanah yang baik dan strategis. Mencari harga properti yang murah dan memilih developer atau pengembang yang kredibel serta berpengalaman. Namun, perlu diingat juga dalam berinvestasi di sektor properti, Anda harus jeli dan bijaksana dalam menjalankannya. Agar keuntungan yang Anda peroleh menjadi sangat menguntungkan hasilnya.



Agar investasi properti di tahun 2018 nanti lebih menguntungkan, ada hal-hal yang harus Anda perhatikan. Seperti lokasi strategis memilih bangunan yang Anda jadikan lahan investasi. Lihatlah, prospek ke depannya, selain itu, perhatikan kawasan sekitar. Semakin hunian tersebut dekat dengan pusat perbelanjaan, pusat bisnis, pusat pendidikan, akses menuju transportasi umum dan jalan tol semakin dekat, maka semakin tinggi antusias orang untuk menyewa hunian tersebut, bukan? Maka, cermatlah dalam memilih hunian sebagai investasi Anda.

Poin-poin di atas lah yang menjadi acuan para pebisnis properti memprediksi perkembangan sektor properti tahun 2018 akan semakin membaik. Ditambah, tahun 2018 adalah waktu yang tepat bagi Anda yang ingin memulai belajar untuk investasi di sektor properti. Apalagi, sejak dikeluarkannya sejumlah regulasi, bakal menjadikan segmen properti semakin menggiurkan.
Ingat, tahun 2018 adalah saatnya pasar properti mulai booming. Ditambah, akan ada banyaknya transportasi MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rail) akan beroperasional. Ditambah, tax amnesty para pemilik uang miliaran hingga triliunan ini pasti larinya ke properti. Harusnya dari dulu tax amnesty ini diberlakukan, karena di Singapura sendiri sudah lama berjalan. Properti di sana bagus-bagus, bukan?

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia Panangian Simanungkalit memperkirakan pertumbuhan bisnis properti tahun depan mencapai 8%-10%. Dia menjelaskan, pertumbuhan akan ditopang oleh pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) yang diprediksi mencapai 15% atau setara Rp80 triliun penyaluran kredit baru. Proyeksi ini berlaku dengan asumsi ada perbaikan pertumbuhan ekonomi ke level 5,2% dan level BI Rate di bawah 7%.

Kenaikan harga properti akan terjadi pada rumah menengah ke bawah dengan harga di bawah Rp500 juta. Untuk apartemen, tipe yang paling diminati adalah studio dan dua kamar tidur berbanderol maksimal Rp700 juta. Panangian menuturkan, pengembang harus bisa menyiasati perubahan selera pasar di kelas menengah bawah sehingga mendapatkan keuntungan grafik pertumbuhan ekonomi. Sektor properti memiliki peranan penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia. Hal itu tidak terlepas dari keberadaan industri turunan yang ada di dalam sektor tersebut.



Sebagai gambaran, dalam membangun sebuah rumah, pengembang tentu akan bekerja sama dengan beragam industri lainnya, mulai dari semen, besi, pasir, kaca dan lainnya. Setidaknya, ada sekitar 170 industri turunan yang berada di dalam sektor properti. Suplai properti terutama pada sektor residensial juga diperkirakan akan meningkat di tahun 2018. Hal itu tidak terlepas dari sejumlah kebijakan pemerintah yang berdampak positif pada optimisme terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, yang perlu diwaspadai yaitu peristiwa tahunan yang akan terjadi pada tahun depan, seperti natal, libur akhir tahun, dan idul fitri. Serta peristiwa politik yang terjadi sepanjang tahun, yaitu Pilkada 2018 dan jelang pemilihan Presiden 2019.