Napro.id, Tangerang - Di tengah laju inflasi yang terus meningkat, investasi menjadi salah satu pilihan yang sangat tepat. Terdapat banyak pilihan untuk berinvestasi mulai dari investasi saham atau reksadana, emas, mata uang asing, hingga properti. Untuk investasi properti ini di sebut-sebut sebagai pilihan investasi yang terbaik yang dapat dilakukan agar tidak tergerus inflasi. Selain itu, investasi properti juga dapat membuat Anda mendapatkan keuntungan yang menjanjikan. Akan tetapi, investasi di bidang properti juga terdapat risiko dan tidak lah mudah untuk dijalani. Terlebih, dalam hal pemilihan lokasi, harus lah sangat tepat agar Anda pun tetap untung.

Peluang untuk berinvestasi di bidang properti masih akan terus menggeliat, mengingat kebangkitan industri properti ini menjadi peluang emas untuk menggalih keuntungan semakin jelas saja. Seiring dengan rencana pemerataan infrastruktur yang diusung oleh pemerintah, kondisi iklim investasi properti di Indonesia mulai perlahan membaik. Sebab, sektor properti ini turut meraup keuntungan dari membaiknya perekonomian.

Analis properti menyebutkan investasi properti di Timur Jakarta, terutama koridor Cikarang Jawa Barat sangat prospektif ke depannya bahkan mengalahkan kawasan Barat Jakarta seperti Serpong Tangerang. Karena di kawasan ini kedepannya akan lebih menguntungkan karena selain kawasan ini memiliki basis ekonomi lebih menguntungkan dibandingkan dengan kawasan. Sebut saja Tangerang Selatan, perkembangan kota ini memiliki infrastruktur yang sudah mulai memadai. Dari segi transportasinya pun, sudah bisa diakses dengan KRL yang telah dibangun di beberapa area sekitar daerah Tangerang Selatan maupun mengakses dengan transportasi umum lainnya.

Maka dari itu untuk koridor timur Jakarta ini telah memiliki sejumlah infrastruktur yang dibangun secara pesat sehingga perkembangan di daerah tersebut turut menyebabkan harga hunian seperti apartemen menguat tipis. Kenaikan harga tersebut membuat nilai investasi properti di kawasan Cikarang, Jawa Barat pun menjulang.

Sesuai prediksi dari Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Real Estat Indonesia (REI) bidang Perundang-undangan dan Regulasi Properti Ignesjz Kemalawarta mengatakan bahwa industri properti akan tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini. Belum lagi pertumbuhan kredit modal kerja di sektor properti yang di tawarkan oleh perbankan akan terus membuat industri properti ini mengalami tren yang membaik.



Selain itu, tren pertumbuhan konstruksi cukup pesat karena adanya kebijakan pemerintah yang mendorong pembangunan infrastruktur terutama di koridor timur Jakarta sehingga industri bidang konstruksi juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi dibandingkan dengan lapangan usaha lainnya. Terlebih lagi, penyelesaian sejumlah infrastruktur yang ada di koridor timur Indonesia diyakini akan berimbas pada kenaikan harga properti.

Untuk para investor properti, mereka pun telah mulai melirik Bekasi sebagai lokasi investasi. Mengapa? Karena di Bekasi kini telah menjadi kiblat bisnis properti yang didukung juga oleh gencaran berbagai proyek infrastruktur yang sedang dibangun sehingga menjadikan Bekasi sebagai ladang untuk berinvestasi. Sebut saja proyek tol layang Jakarta – Cikampek II, kereta rel listrik (KRL) rute Jakarta Kota – Cikarang, sampai dengan kereta LRT Jabodetabek Bekasi – Dukuh Atas. Untuk tol Bekasi – Cawang – Kampung Melayu atau Becakayu sendiri telah beroperasi sejak 4 November 2017 lalu.

Dengan adanya infrastruktur baru di kawasan Bekasi ini diharapkan agar dapat mengurai kemacetan yang kerap kali terjadi setiap hari, terutama di tol Jakarta – Cikampek. Perkembangan infrastruktur yang ada di Bekasi ini turut memberi pengaruh yang signifikan terhadap median harga properti yang ada di Bekasi dan sekitarnya, termasuk juga untuk di kawasan industri Cikarang. Hingga kuartal 4 (Q4) 2017 median harga rumah tapak dan apartemen di kawasan Bekasi ini mencapai angka Rp7,64 juta/meter persegi. Sebelumnya, di Q2 2017 Rp7,58 juta/meter persegi. Hal ini tentunya memberikan sinyalemen positif bahwa properti di kawasan Bekasi kembali bergeliat meski harus diakui pada Q4 2016 sempat mencapai Rp7,71 juta/meter persegi.

Selain itu, seiring dengan perkembangan infrastruktur tersebut, pengembang juga harus memperhatikan beberapa hal agar nantinya bisnis yang mereka jalani dapat berjalan dengan lancar. Salah satunya menilik kondisi demografi saat ini, dimana generasi mudanya yang terkenal akan sebutan kaum milenial ini sangat akrab dengan dunia digital, internet, dan gawai, termasuk bisnis properti yang harus mengikuti zaman. Juga perubahan paradigma permintaan properti yang mengalami perubahan.

Jika dilihat-lihat, pontensi bisnis yang ada di kawasan timur Jakarta ini sangat potensial, salah satunya adalah kawasan industri yang ada di Cikarang, Bekasi. Untuk saat ini saja sudah tercatat bahwa ada lebih dari 4.000 kawasan industri yang berdiri di Cikarang dengan jumlah pekerja ekspatriat yang diperkirakan telah mencapai 21.000. Tentunya dengan total ekspatriat sebanyak itu membuat kawasan Cikarang ini menjadi martet rental yang sangat potensial.

Hal ini juga mendorong berbagai sejumlah developer untuk membangun kawasan hunian yang sesuai kebutuhan dan selera pasar. Dari sisi keuntungan, pertumbuhan harga residensial seperti rumah tapak dan apartemen yang ada di Cikarang bisa mencapai 10% sampai 20% per tahun.

Ditambah lagi dengan munculnya keberadaan berbagai kawasan industri seperti East Jakarta Industrial Park (EJIP), Kawasan Industri Jababeka, Kawasan Industri Lippo, Kawasan Industri Delta Mas, Kawasan Industri Delta Silicon, Kawasan industri Hyundai, dan juga MM2100 memang seolah menjadi magnet bagi tumbuhnya hunian dari berbagai segmen di Cikarang. Fakta inilah yang lantas menjadi magnet bagi pertumbuhan sub sektor properti lain, terutama residensial. Hal ini pun turut membuat para investor untuk berbondong-bondong berinvestasi di kawasan Bekasi yang satu ini.