Pinjaman online yang mulai banyak bermunculan ini memiliki dua bentuk, salah satunya adalah peer to peer lending atau sarana bertemunya pemberi pinjaman dengan peminjam.  Permasalahan umum yang biasanya dihadapi oleh pengusaha kecil adalah kesulitan mendapatkan kredit dari bank. Tidak sedikit pengusaha kecil ditolak oleh bank karena tidak memiliki agunan (kolateral) sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan kredit dari bank. Permasalahan itulah yang kemudian melahirkan peluang bisnis peer to peer lending seperti Napro.

Peer to Peer Lending (P2P Lending) memungkinkan setiap orang untuk memberikan pinjaman atau mengajukan pinjaman yang satu dengan yang lain untuk berbagai kepentingan tanpa menggunakan jasa dari lembaga keuangan yang sah sebagai perantara. Pada dasarnya, sistem P2P Lending ini sangat mirip dengan konsep marketplace online, yang menyediakan wadah sebagai tempat pertemuan antara pembeli dengan penjual.

Terdapat perbedaan cara pandang antara bank dan fintech P2P dalam menangkap nasabah. Bank pada umumnya menerapkan prinsip asset based lending sehingga orang yang tidak mempunyai aset tidak bisa mendapatkan kredit. Berbeda dengan Modalku yang menerapkan prinsip cash flow based lending. Menurutnya, nasabah layak mendapatkan kredit selagi bisnis yang dijalankan jelas dan menguntungkan.

Pengusaha kecil biasanya lebih berhati-hati dibanding pengusaha besar. Pengusaha kecil lebih berhati-hati dalam menggunakan dana karena takut modalnya habis. Sementara itu, pengusaha besar tidak terlalu memikirkan kalau uangnya habis, sebab saat uang atau modalku habis, mereka bisa kembali meminjam ke bank. Inilah alasan kenapa pedagang, penjual jasa dan pengusaha kecil menjadi target dari marketplace pinjaman online dengan bentuk P2P ini.

Napro menerapkan prinsip responsible lending dalam menyeleksi nasabahnya. Disini akan dilakukan analisa penilaian pertumbuhan bisnis UMKM yang terkait dan kemampuan finansial mereka untuk melakukan pembayaran rutin dan melunasi pinjaman, menggunakan teknik penilaian kredit yang sesuai sebelum memberikan kredit.  Untuk menekan risiko kredit macet, prinsip dan asas penilaian inilah yang harus terus dikembangkan. Tujuan utamanya jelas agar dana yang cair jatuh ke pihak-pihak yang benar-benar berkompeten menjalankan sebuah bisnis, apapun bentuknya. UMKM Indonesia sekarang tidak perlu risau lagi, karena untuk mendapatkan modalkurang lebih akan sangat mudah melalui platform online.